Minggu, Agustus 18, 2019

Viral Market



Daftar hari ini untuk mendapat bonus $ 25! https://viralmarket.co/dashboard/invite.php?invite=GCjaya1304 Hasilkan uang secara online dengan Viral Market. Viral Market membayar Anda untuk merujuk teman dan keluarga ke situs web mereka. Anda bisa mendapatkan hingga $ 10 per referensi. Ingin tahu mengapa ini bekerja dan dari mana uang itu berasal? Lihat tautan ini: https://viralmarket.co/faq
https://viralmarket.co/dashboard/invite.php?invite=GCjaya1304




Jumat, Agustus 09, 2019

EFORIA ATAUKAH SESUATU YANG GAGAL DIPAHAMI

Suatu esensi yang terangkum dan wajib untuk dipahami adalah : 
Brahman = parama atma = atman = jiwa atman.Brahman (parama atma) meresap dalam segala ciptaannya yang bersifat trasedent (Nirguna brahman)

Svetasvatara Up.VI.11
Eko devas sarva-bhutesu Gudas
sarva vyapi sarva bhutantar
atma karmadhyaksas sarva
Bhuta dhivasas saksi ceta
Kevalo irgunasca
                  Artinya : Tuhan yang tunggal berada pada semua makhluk, menyusupi segala, inti hidupnya semua makhluk, hakim semua perbuatan, yang berada pada semua makhluk, saksi yang mengetahui, yang tunggal, bebas dari kualitas apapun.


Bhuwanakosa II.16
Bhatara Siwa sira eyapaka, sira suksma tar
Kneng angen-angen, kadyangganing akasa
Tan kagrhita de ning manah mwang indriya
             Artinya : Bhatara Siwa, meresapi segala, Ia gaib tak dapat dipikirkan, Ia seperti angkasa tak terjangkau oleh pikiran dan indriya.


Mundaka Upanisad II.2
Divyo hy amurtah purusah sa
Bahyabyantaro hy ajah
Aprana hy amanah subhro aksarat
Paratah parah
             Artinya : Tanpa bentuk dan bersifat Ilahi-lah makhluk ini, dia ada di luar dan di dalam, tiada dilahirkan, tanpa nafas dan tanpa pikiran, murni dan lebih tinggi dari yang kekal yang tertinggi.


Taittiriya Upanisad 2.1.1
Brahmavid apnoti param tad esa bhyukta
Satyam jnanam anantam Brahma Veda
Nihitam guhayah parame vyman so’ snute
Kaman vipascita iti
                Artinya : Ia yang mengetahui Brahman sebagai kebenaran, pengetahuan dan tidak terbatas, Ia yang bersembunyi di dalam rongga hati dan Ia yang sangat jauh di angkasa. Ia yang terpenuhi segala keinginannya dalam kesatuan dengan Brahman, Ia yang maha mengetahui..
Brahman(paramatma), meresap dalam segala ciptaannya yang bersifat imanen(saguna brahman)..


Svetasvatara Upanisad II.17
Yo devo’gnau yo’psu, yo visvam bhuvanamavisesa,
Yo asadhisu yp vanaspatisu, tasmai devaya namo namah
               Artinya : Sujud pada Tuhan yang berada pada api, yang ada dalam air yang meresapi seluruh alam semesta, yang ada dalam tumbuh-tumbuhan yang ada dalam pohon-pohon kayu..


Bhuwanakosa III.76
Lwir Bhatara Siwa magawe jagat,
Brahma rupa siram pasrti jagat,
Wisnu rupa sira pangraksang jagat
Rudra Rupa nira mralayaken rat
Nahan tawaknica, bheda nama
             Artinya : Adapun Tuhan membuat dunia, berwujud Brahma menciptakan dunia, berwujud Wisnu Beliau memelihara dunia, berwujud Rudra Beliau memusnahkan dunia, demikianlah tiga perwujudan Beliau (yang Tunggal) berbeda nama.


Wrhaspati Tattwa 11 – 12
Swayaparah siwah suryah caitta tattwah sadasiwah,
Sapadah saguna wyapi arupatwat pracaryate
Utpadako na sahakah tattsyanugraha parah,
Wirocanakaro nityah sarwajnah sarwakrdbibhuh.
          Artinya : Sadasiwa adalah Cetana (Tuhan) yang telah aktif (sawyaparah) telah berfungsi dan berkhasiat, (misalnya) suka menampuni (siwah), memberi sinar penerangan (suryah), dapat menjadi sekecil-kecilnya (wyapi), tiada berwujud (Arupa), dan menjadi obyek pujaan dari segala makhluk. Sebagai pencipta, pelebur (dan) memberkati. Karunia (Pemelihara) pada dunia raya, memberi sinar-cahaya (sebagai wokosana, serba tahu, maha kaya, ada dimana-mana (dan) kekal abadi.


Yajur Veda 32.1
Tad eva agnis tad adityas
tad vajur tad u candramah
tad eva sukran tad Brahma
ta apah tad prajapatih
             Artinya : Agni adalah itu, Aditya adalah itu, Vayu adalah itu, Candramas adalah itu, Sinar adalah itu, Air juga adalah dia dan prajapati adalah dia.


Arti istilah Atma-Tattwa, 
                ialah kepercayaan mengenai atma. Atma disebut juga dengan istilah: Ciwatma, Jiwatma, yang merupakan bagian kecil tak terukur (atom, anu, parama anu) dari Parama Atma (Brahman, Sang Hyang Widdhi). "Brahman Atma Aikyam" (Brahman dan Atman adalah tunggal) demikianlah tersebut dalam kitab Upanisad.
              Oleh karena Atman = Brahman, maka Atman kekal Abadi, achintya (tidak dapat dipikirkan) oleh pikiran manusia yang keadaannya terbatas. Jika Brahman (Parama Atma) dibandingkan dengan lautan, maka Atma ialah atomnya (molecule-molecule) air laut, yang tak terhitung jumlahnya.
Jika Brahman kita bandingkan dengan matahari, maka Atma ialah sinar-sinar yang dipancarkan oleh matahari ke segala penjuru, tak terhitung banyaknya.

Kalau kita menengadah ke angkasa, maka terlihatlah oleh mata kita butiran-butiran halus yang sangat kecil bergetar; dalam hal ini dapatlah kita bandingkan bahwa angkasa adalah Brahman (Parama Atma) sedangkan butiran-butiran atau titik halus yang bergetar ialah Atma-Atma yang tidak terhitung banyaknya Pada Kitab Aeteria Upanisad dijelaskan :   
"(Atma) adalah Brahman (Tuhan) pada diri manusia (Microcosmos, Bhuwana Alit) dan juga matahari (Macrocosmos) alam semesta yang mana sebenarpysa satu,
Atma adalah Brahman". Jelaslah bahwa 'Atma. (Ciwatma, Jiwatma) merupakan sumber hidup seluruh mahluk alam semesta (Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit).
Secara umum mengenai istilah Atma dapat dikemukakan sebagai berikut:
Parama Atma (Brahman) : Tuhan, Sang Hyang Widdhi; Atma Yang Agung.

Atma: Bagian dari pada Brahman (Parama Atma), yang mempunyai sifat-sifat sangat suksma (gaib). Sumber hidup bhuwana Agung dan Alit.
Ciwatma: Atma yang berasal dari Ciwa ; menjadi sumber hidup.
Jiwatma/Adhiyatma : Jiwa, dari akar kata Jiw, berarti hidup; Atma yang memberikan hidup pada diri manusia.
Dalam agama Hindu terdapat keyakinan bahwa ada "sesuatu yang sejati" dalam tiap individu yang disebut atman, sifatnya abadi atau tidak terhancurkan. Taittiriya-upanishad mendeskripsikan bahwa atman individu diselimuti oleh lima lapisan: annamayakosa (lapisan badan kasar yang mengandung daging dan kulit), pranamayakosa (lapisan tenaga kehidupan), manomayakosa (lapisan pikiran atau indera yang menerima rangsangan), wijanamayakosa (lapisan nalar, akal budi, atau kecerdasan), anandamayakosa (lapisan kebahagiaan atau tubuh kausal).
Istilah atman dan jiwa kadangkala dipakai untuk konteks yang sama. Dalam suatu pengertian, atman adalah Brahman, sedangkan jiwa adalah penggerak segala makhluk hidup. Menurut teologi Hindu yang monistis/panteistis (seperti mazhab Adwaita Wedanta), sukma individu sama sekali tiada berbeda dari Brahman. Sukma individu disebut jiwatman, sedangkan Brahman disebut paramatman. Maka dari itu, ajaran ini disebut aliran non-dualis.
Ketika tubuh individu hancur, jiwa tidak turut hancur. Sebaliknya, ia berpindah ke tubuh baru melalui reinkarnasi (samsara). Jiwa mengalaminya karena diselubungi oleh awidya atau "ketidaksadaran" bahwa dirinya sesungguhnya sama dengan Paramatman. Tujuan kehidupan menurut mazhab Adwaita adalah untuk mencapai kesadaran bahwa atman sesungguhnya sama dengan Brahman. Kitab Upanishad menyatakan bahwa siapa pun yang merasakan bahwa atman merupakan esensi dari tiap individu, maka ia akan menyadari kesetaraan dengan Brahman, sehingga mencapai moksa (kebebasan atau kemerdekaan dari proses reinkarnasi/samsara).
Yoga dari Resi Patanjali sebagaimana yang diuraikan dalam Yogasutra berbeda dengan monisme yang diuraikan dalam filsafat Adwaita. Menurut yoga, pencapaian spiritual tertinggi bukanlah untuk menyadari bahwa segala kemajemukan di alam semesta merupakan maya. Jati diri yang diperoleh saat mencapai pengalaman religius tertinggi bukanlah atman belaka. Itu hanyalah salah satu jati diri yang ditemukan oleh individu.
Meruntuhkan "tembok alam sadar manusia" untuk membangun "persatuan" jati diri individu (jiwatman) dengan sukma alam semesta (paramatman), merupakan tujuan praktik yoga.
Menurut pemahaman dualistis seperti mazhab Dwaita, jiwa merupakan entitas yang berbeda dengan Tuhan, namun memiliki kesamaan. Jiwa bergantung kepada Tuhan, sedangkan pencapaian moksa (lepas dari samsara) bergantung kepada cinta pada Tuhan serta kasih sayang Tuhan.

Atharwa Weda X.8.11
"Tat sambhuya bhavati ekam eva”
            Brahman adalah inti alam semesta dan segalanya dilarutkan menjadi seragam dengan-Nya.


2. Reg Weda X.82.7
"Anyad yusmakam antaram babhuva”
            Tuhan berada dalam hatimu.

Esa sarvestu bhutesu
gudho ‘tma na prakasate,
drsyate tvargyaya buddhya
suksmaya suksma darsibhih
(Katha Upanisad I.3.12)
Artinya :
          Atman yang bercahaya halus itu
          Ada dalam setiap mahluk
          Ia hanya dapat di lihat oleh para rsi
          Dengan budi yang tajam dan murni
Asabdam Asparsan Arupam Avyayam
tatha arasam nityam agandhavac ca yat
anady anantam mahatah param dhruvam
nicayya Tam Mrtyu Mukhat Pramucyate
(Katha Upanisad I.3.15)

Dari berbagai banyak sumber sastra sruti dan lontar dibali menyatakan bahwa :
BRAHMAN = ATMAN
PARAMATMAN = JIWATMAN
----------------------------------------------------------
Sekarang kitab sruti dan sloka hindu ditentang oleh kaum sesat HK, mengatakan sprt ini :

            Hare Krishna sangat menentang konsep Mayavadi yang menyatakan bahwa Tuhan adalah tidak berwujud yang disebut Nirguna Brahman dan akhirnya karena terjerat oleh Maya yang Dia ciptakan menjadi berwujud yang disebut Sarguna Brahman karena menurutnya, Tuhan Yang Maha Kuasa tidak mungkin terjerat oleh ciptaanNya sendiri.(inilah yang menentang sruti tentang brahman=atman).lalu bagaimana dengan wisnu turun kedunia sbg awatara, yang terjebak dalam material, lahir, menerima kutukan gandari, mati terpanah, dll).
             Meski lebih sering menyebut nama Tuhan dengan sebutan Krishna dan Rama, namun pengikut Hare Krishna tidak menolak nama Tuhan yang lain. Bahkan dikatakan nama suci Tuhan tidak terhingga jumlahnya. Visnu Sahasra Nama atau 1000 nama suci Tuhan sebagaimana disampaikan dalam Padma Purana dan juga Mahabharata Anushāsanaparva 149 menjadi salah satu panduan kebebasan pengikut Hare Krishna dalam menyebut nama Tuhan yang mereka sukai.( disini dapat dilihat kebohongan, dimana krisna adalah yang tertinggi dan tdk ada nama suci lain, mereka harus yakin kpd satu tuhan yakni krisna krna kresna adalah segalanya).
          Mengenai para dewa, ajaran Hare Krishna mengatakan bahwa Tuhan dan dewa berbeda. Para dewa adalah abdi Tuhan Yang Esa yang merupakan Jiva Tattva yang merupakan individu yang sama dengan mahluk hidup yang lain tetapi karena guna dan karma-nya mereka mendapatkan badan dan kedudukan seperti itu. Namun demikian, dalam beberapa posisi seperti kedudukan Brahma, Visnu dan Siva kadang kala juga diemban oleh Tuhan sendiri dalam aspeknya sebagai Tri Guna Avatara (Bhagavata Purana 1.2.23)...( dan ini sudah jelas sekali bertentangan dgn sruti terutama catur weda, indra, varuna, agni, aswin, dll adalah brahman sbg fungsi dan tugas sinar suci brahman dalam mantram mantram weda(dewa), dan kesqlahan besar adalah purana melangkahi otoritas tertinggi yakni sruti).
IB ARNAWA 
      Perbedaan antara Tuhan dan Atman dalam ajaran Hare Krishna sangat jelas. Hare Krishna menolak pendapat yang mengatakan bahwa Atman dan Brahman (Tuhan) itu sama. Tuhan adalah Tuhan dan Atman tetaplah Atman yang semuanya adalah individual terpisah yang secara kuantitas sama, tetapi secara kualitas berbeda. Konsep ajaran ini dipertajam oleh Sri Chaitanya Maha Prabhu sebagai salah satu acharya dalam garis perguruan Hare Krishna dengan filsafatnya yang sangat terkenal, yaitu “Achintya Bheda Abheda Tattva”. Sehingga atas dasar ini, ajaran Hare Krishna menolak asumsi yang mengatakan oleh karena kita adalah Atman yang sama dengan Brahman, maka suatu saat nanti jika sudah mencapai moksa maka kita akan menyatu dan menjadi Tuhan.... (sangat jelas sekali dalam upanisad utama selalu mengatakan brahman=atman,sruti sdh diobok obok dgn bahasa ngawur acintya beda beda, mungkin waktu makan gado-gado atau bahasa balinya srombotan mendapat ilham shg ada kata terucap acintya beda-beda).
     
    Ajaran Hare Krishna dengan tegas menolak konsep moksa yang menyatakan kita sebagai Atman sama dengan Tuhan dan suatu saat bisa menyatu dan menjadi Tuhan.
Jadi dari penjabaran ajaran di atas, terlihat bahwasanya ajaran "Hare Krishna 100% melecehkan kitab suci Veda sesuai statmen pendiri hk bahwa weda cabang cabang kering dan pengikut hindu yang tidak berguna"

Kamis, Agustus 01, 2019

PURA LUHUR CANDI NARMADA TANAH KILAP


Sekelumit tentang PURA LUHUR CANDI NARMADA TANAH KILAP  (Pelingih Ida Bhatari Nihang Sakti/Niyang Lingsir)


Sebelumnya ijinkanlah saya, mohon kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan segala Prabawa-Nya serta Ida Bhetara - Bhetari di Pura Luhur Candi Narmada Tanah - Kilap. Semoga saya terhindarkan dari "Raja Pinulah, Sod-Sod Upedrawa lan Tan Kekeneng Ala Papa Petaka, ke Cakrabhawa Dening Prabawan Ida Batara" karena pastinya dalam penyampain ini secara sengaja akan menyebut nama / Pepasih Ida Batara-Batari yang berstana di Pura Luhur Candi Narmada Tanah Kilap dengan mengucapkan "Om Awigenemastu Namo Sidem” Pura Luhur Candi Narmada Tanah Kilap terletak diperbatasan Kabupaten Badung dengan Kota Denpasar, wewengkong Desa Pemogan, Denpasar Selatan, Kota Denpasar, tepatnya di muara Tukad Badung. Dalam pengungkapan sejarahnya m`enurut Lontar Prasasti yang diketemukan di Griya Gede Gunung Biau Muncan Karangasem. 
Tersadur sebagai berikut : 
Pada Zaman pemerintahan kerajaan "Bandanda Raja", dipesisir Bağian Selatan Bali terdapat sebuah deşa "Tanpa Aran" disana hidup seorang "Bendega (nelayan) bernama "Pan Santeng”. Sebagai Nelayan, Pan Santeng sehari-hari menjalani kehidupannya dengan menangkap ikan melalui muara sungai yang langsung berhadapan dengan laut. Pekerjaan menangkap ikan dilakukannya setiap hari dengan sungguh-sungguh. Pada suatu hari, tidak seperti biasanya selama tiga hari berturut-turut Pan Santeng tidak memperoleh hasil sama sekali. Akhirnya I Bendega mengucapkan "Sesangi " (janji/sot) seperti berikut :

"Ratu Ida Betara sane melinggih ring segara yening titiyang polih ulam sebarean, titiyang jagi ngaturaııg pakelem "suku pat metanduk mas”.

Semenjak itü, bila sang Bendega melaut, begitu banyak dilihat ikan, penyu dan sebagainya dipermukaan laut, maka hal tersebut adalah sebagai bukti apa yang menjadi permintaannya dikabulkan, sehingga setiap melaut Pan Santeng mendapatkan hasil boga sebarean.

Pan Santeng merasa permohonannya terpenuhi, sebagai wujud memenuhi janji ucapannya dan bakti atas dikabulkan permintaannya. Pan Santengpun mewujudkan janjinya, maka dibuatlah pelinggih diatas batu karang. Maka bila hendak melaut, setiap hari 1 Bendega (Pan Santeng) melakukan persembahyangan kehadapan Ida Hyang Segara di pelinggih tersebut. 


Saking tekunnya, didasarkan atas keikhlasan dan kejujurannya, pada suatu hari tatkala melakukan persembahyangan, tiba-tiba datang mega (awan) yang memancarkan sinar serta didengarnya ada şuara "Sabda" yang datang dari luwuring mega (diatas awan). İnti sari dari "Sabda” tersebut kira-kira seperti ini.
"IH KITA NARA TUHU, JATI NIRA, MANUNGGAL KANG SABDA NGUNI RI TEJA DUKING JALADI NULUR TEMU KILAT ALIT, SATMA RİNG PUTRI NIRA DANG HYANG DWIJENDRA SANG MANGARAN PATM KENITEN, RI SEKALA SANGHYANG SARASWATI" 
Batu karang, tempat Pan Santeng mendirikan pelinggih, dahulunya merupakan tempat Ida Brahma Putri dari Patni Keniten meparab "IDA AYU NGURAH SARASWATI SWABHAWA” ke - ambil ring Ida Betam Baruna saking pemargin kilat, tatit sane niben Ida mangda marisidayang masikian sareng tabik pakulun, Ida Dang Hyang Dwijendra


Semua yang dialami oleh Pan Santeng diceritakan kepada saudara saudaranya di desa. Namım ada yang percaya dan ada yang tidak percaya. Akhirnya timbul keinginan "manangkil” (menghadap) Ida Pedanda Alangkajeng. Apa yang didengarnya, disampaikan kehadapan Ida Pedanda dan Idapun pada saat itu kepada I Santeng berujar : 

"Oh kamu Santeng, tuhu kadi kapwa pratyaksa numana warahing suksema yogya sapratista saupacara ghrahasta lingga makhawanang manggih suka sekala"

Demikianlah inti sari dari Rontal Prasasti yang ada di Pura Luhur Candi Narrnada Tanah Kilap. Kemudian dalam perkembangan dan memperhatikan eksistensi keberadaan Pura Parahyangan lda Ratu Niyang Ngurah, karena semakin banyaknya para bhakta yang memedek, selaras dengan kedudukan dan fungsinya sebagai tempat suci untuk memohon kemakmuran, kesejahteraan, kebahagiaan dan kerahayuan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. 

Maka berdasarkan tuntunan dari Ida Pedanda Gde Ngurah Bajing dari Griya Gede Bajing Kesiman Denpasar Timur, serta atas kesepakatan dari para bhakta dan pengayah, berkat 'Danakarma" yang terkumpul, berhasil didirikan Parahyangan Ida Ratu Niyang Ngurah serta melaksanakan Karya Agung Memungkah Pemelaspas, Ngenteg Linggih lan Dirghayusa Bhumi pada tahun 1997. Dan pada saat itu, Pepasih lan Pengayatan Ida Batari Ida Ratu Niyang Ngurah ka-bhiseka : “IDA RATU BHETARI NIHANG CAKTI”.

Menginjak masa 20 tahun, pada tahun 2017 Prejuru Penyanggra (istilah Pengurus/Pengempon Pura) dengan umat pengayah melaksanakan Karya Pedudusan Agung, sebagai bakti kepada Beliau yang distanakan di Pura Luhur Candi Narmada Tanah Kilap. Dengan Menghaturkan Upakara Tawur Balik Sumpah lan Pedusan Agung dengan segala runutannya sesuai dengan apa yang menjadi kesepakatan dalam Paruman Ida Pedanda yang memang dari awal terlibat dalam cikal bakal berdirinya Pura Luhur Candi Narmada Tanah Kilap tersebut.

Jajar kemiri dan laiinya akan penulis sambung dalam posting yang akan datang, tentunya dengan hal-hal yang mungkin menjadi bagian khusus tentang bagaimana Pura Luhur Candi Narmada Tanah Kilap dengan Ida Bhetari Nihang Sakti sebagai Pemucuk, bagaimana dengan Keberadaan Pelinggih lainnya. 
KORI AGUNG PURA
PELINGGIH IDA BHATARI NIHANG SAKTI



BUDHA DALAM SIWA SIDANTHA INDONESIA

Kata "Budha" ini bukanlah dimaksudkan Budha Gautama atau Shakya-muni itu. Kata Budha ini dimaksudkan jiwa atau batin dari manusia karena jiwa manusia adalah sama jiwa yang maha besar yang disebut "Parama Budha" atau Tuhan Yang Maha Esa.

Untuk memperjelas pengertian terhadap Budha dan Parama Budha. Seorang ahli sastra yang sudah pasti dikanl pada jamannya, yakni Empu Tantular menuliskan sebagain berikut :
"Cri Bajrajnana Cunyatmaka Parama Siranidhya Rin Rat Wicesa. Lila Cudda Pratisten Hredaya Jaya-Jaya Nken Maha Swargga Loka. Ekha Chatren Carira Nuripi Sahananin Bhur Bhuah Swah Prakirnna. Saksad Candrarkka Purnnadbhuta Ri Wijilliran Sangka Ri Boddha Citta".
                Artinya : Sang Hyang Budha adalah jiwa gaib yang maha besar (Cunyatmaka) dan Maha Esa (Parama). Tidak ada duanya (tandingannya) serta Maha Kuasa diseluruh alam. Menjadikan Bajagia Suci (nirwana). Jika Ia ditempatkan dan dipuja dalam batin, seakan-akan maha surga-loka. Ia yang tinggal itu menjadi payungnya badan kita dan yang menjiwai sekalian yang ada dalam Tri Bhuwana ini. Laksana bulan atau matahari yang bulat penuh serta menakjubkan hati tat kala keluarnya dari batin orang penganut Budha.
"Singgah yan siddha yogicwara san satwya lawan bhatara sarwwajna murtti cunya ganal alit inucap mustinin dharwa tatwa sanciptan pet ulik rin hati sira sekungan yoga lawan semadhi. Byaktan iwir bharata citta ngrasa riwa-riwani n nirmala cintya rupa.Adapun yang berhak mendapat gelaran Pendeta (Yogiswara) ialah orang yang telah lulus dapat manunggal kepada Hyang Budha. Segala batinnya telah menjadi Sepi (Sepining Pamrih), berkuasa merupakan besar atau kecil, inilah disebutkan inti sarinya ajaran-ajaran Agama (Dharma). Coba cari Ia didalam batin sendiri, persatuan kekuatan dan kemauan dengan Yoga dan Semadhi. Tetapi agaknya atau banyak orang keragu-raguan dalam batinnya merasakan gambaran-gambaran yang disebutkan suci karena merupakan suci.
Jadi Budha yang menjadi jiwa berkuasa memberi hidup kepada manusia dan selanjutnya menyebabkan manusia dapat bergerak, dapat melihat, mendengar, mencium, merasakan keadaan benda-benda yang manusia tempuh dalam kehidupan sehari-hari didalam dunia maya ini. Jika Budha sudah tidak ada dalam badan manusia maka badan tidak akan dapat bergerak atau disebut juga Manunggal (Mati).

Budha selama bersatu kepada badan, ialah yang berkuasa, memerintahkan, mengerakan seluruh anggota badan dgn amat cepat dan tangkasnya. Sinar geraknya Budha yang pertama kali, mengadakan Budhi, kemudian Budhi ini mengembang menjadi Budhaya, Budhaya ini meluas menjadi Kebudayaan.

''Rwaneka dhatu winuwus Buddha wisma, Bhinneki rakwa ring apan kena parwanosen, mangkang jinatwa kalawan siwatatwa tunggal, Bhinneka ika tan hana dharma mangrwa. 
Artinya bahwa Agama Buddha dan Agama Siwa (Hindu) merupakan zat yang berbeda, tetapi nilai nilai kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah Tunggal. Terpecah Belah, Tetapi Satu Jua, artinya tidak ada dharma yang mendua. ungkapan dalam bahasa jawa kuno tersebut secara harfiah mengandung arti Bhinneka (Beragam) , Tunggal (Satu) Ika (Itu) yaitu beragam satu itu.

"Siwa Tan Kita Budha, Budha Tan Kita Siwa"
Siwa tanpa Budha Tidak bisa, Budha tanpa Siwa Tidak Bisa.. Keduanya adalah Satu.
by Ida Bagus Arnawa

Top Nusantara