Kamis, Agustus 01, 2019

PURA LUHUR CANDI NARMADA TANAH KILAP


Sekelumit tentang PURA LUHUR CANDI NARMADA TANAH KILAP  (Pelingih Ida Bhatari Nihang Sakti/Niyang Lingsir)


Sebelumnya ijinkanlah saya, mohon kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan segala Prabawa-Nya serta Ida Bhetara - Bhetari di Pura Luhur Candi Narmada Tanah - Kilap. Semoga saya terhindarkan dari "Raja Pinulah, Sod-Sod Upedrawa lan Tan Kekeneng Ala Papa Petaka, ke Cakrabhawa Dening Prabawan Ida Batara" karena pastinya dalam penyampain ini secara sengaja akan menyebut nama / Pepasih Ida Batara-Batari yang berstana di Pura Luhur Candi Narmada Tanah Kilap dengan mengucapkan "Om Awigenemastu Namo Sidem” Pura Luhur Candi Narmada Tanah Kilap terletak diperbatasan Kabupaten Badung dengan Kota Denpasar, wewengkong Desa Pemogan, Denpasar Selatan, Kota Denpasar, tepatnya di muara Tukad Badung. Dalam pengungkapan sejarahnya m`enurut Lontar Prasasti yang diketemukan di Griya Gede Gunung Biau Muncan Karangasem. 
Tersadur sebagai berikut : 
Pada Zaman pemerintahan kerajaan "Bandanda Raja", dipesisir Bağian Selatan Bali terdapat sebuah deşa "Tanpa Aran" disana hidup seorang "Bendega (nelayan) bernama "Pan Santeng”. Sebagai Nelayan, Pan Santeng sehari-hari menjalani kehidupannya dengan menangkap ikan melalui muara sungai yang langsung berhadapan dengan laut. Pekerjaan menangkap ikan dilakukannya setiap hari dengan sungguh-sungguh. Pada suatu hari, tidak seperti biasanya selama tiga hari berturut-turut Pan Santeng tidak memperoleh hasil sama sekali. Akhirnya I Bendega mengucapkan "Sesangi " (janji/sot) seperti berikut :

"Ratu Ida Betara sane melinggih ring segara yening titiyang polih ulam sebarean, titiyang jagi ngaturaııg pakelem "suku pat metanduk mas”.

Semenjak itü, bila sang Bendega melaut, begitu banyak dilihat ikan, penyu dan sebagainya dipermukaan laut, maka hal tersebut adalah sebagai bukti apa yang menjadi permintaannya dikabulkan, sehingga setiap melaut Pan Santeng mendapatkan hasil boga sebarean.

Pan Santeng merasa permohonannya terpenuhi, sebagai wujud memenuhi janji ucapannya dan bakti atas dikabulkan permintaannya. Pan Santengpun mewujudkan janjinya, maka dibuatlah pelinggih diatas batu karang. Maka bila hendak melaut, setiap hari 1 Bendega (Pan Santeng) melakukan persembahyangan kehadapan Ida Hyang Segara di pelinggih tersebut. 


Saking tekunnya, didasarkan atas keikhlasan dan kejujurannya, pada suatu hari tatkala melakukan persembahyangan, tiba-tiba datang mega (awan) yang memancarkan sinar serta didengarnya ada şuara "Sabda" yang datang dari luwuring mega (diatas awan). İnti sari dari "Sabda” tersebut kira-kira seperti ini.
"IH KITA NARA TUHU, JATI NIRA, MANUNGGAL KANG SABDA NGUNI RI TEJA DUKING JALADI NULUR TEMU KILAT ALIT, SATMA RİNG PUTRI NIRA DANG HYANG DWIJENDRA SANG MANGARAN PATM KENITEN, RI SEKALA SANGHYANG SARASWATI" 
Batu karang, tempat Pan Santeng mendirikan pelinggih, dahulunya merupakan tempat Ida Brahma Putri dari Patni Keniten meparab "IDA AYU NGURAH SARASWATI SWABHAWA” ke - ambil ring Ida Betam Baruna saking pemargin kilat, tatit sane niben Ida mangda marisidayang masikian sareng tabik pakulun, Ida Dang Hyang Dwijendra


Semua yang dialami oleh Pan Santeng diceritakan kepada saudara saudaranya di desa. Namım ada yang percaya dan ada yang tidak percaya. Akhirnya timbul keinginan "manangkil” (menghadap) Ida Pedanda Alangkajeng. Apa yang didengarnya, disampaikan kehadapan Ida Pedanda dan Idapun pada saat itu kepada I Santeng berujar : 

"Oh kamu Santeng, tuhu kadi kapwa pratyaksa numana warahing suksema yogya sapratista saupacara ghrahasta lingga makhawanang manggih suka sekala"

Demikianlah inti sari dari Rontal Prasasti yang ada di Pura Luhur Candi Narrnada Tanah Kilap. Kemudian dalam perkembangan dan memperhatikan eksistensi keberadaan Pura Parahyangan lda Ratu Niyang Ngurah, karena semakin banyaknya para bhakta yang memedek, selaras dengan kedudukan dan fungsinya sebagai tempat suci untuk memohon kemakmuran, kesejahteraan, kebahagiaan dan kerahayuan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. 

Maka berdasarkan tuntunan dari Ida Pedanda Gde Ngurah Bajing dari Griya Gede Bajing Kesiman Denpasar Timur, serta atas kesepakatan dari para bhakta dan pengayah, berkat 'Danakarma" yang terkumpul, berhasil didirikan Parahyangan Ida Ratu Niyang Ngurah serta melaksanakan Karya Agung Memungkah Pemelaspas, Ngenteg Linggih lan Dirghayusa Bhumi pada tahun 1997. Dan pada saat itu, Pepasih lan Pengayatan Ida Batari Ida Ratu Niyang Ngurah ka-bhiseka : “IDA RATU BHETARI NIHANG CAKTI”.

Menginjak masa 20 tahun, pada tahun 2017 Prejuru Penyanggra (istilah Pengurus/Pengempon Pura) dengan umat pengayah melaksanakan Karya Pedudusan Agung, sebagai bakti kepada Beliau yang distanakan di Pura Luhur Candi Narmada Tanah Kilap. Dengan Menghaturkan Upakara Tawur Balik Sumpah lan Pedusan Agung dengan segala runutannya sesuai dengan apa yang menjadi kesepakatan dalam Paruman Ida Pedanda yang memang dari awal terlibat dalam cikal bakal berdirinya Pura Luhur Candi Narmada Tanah Kilap tersebut.

Jajar kemiri dan laiinya akan penulis sambung dalam posting yang akan datang, tentunya dengan hal-hal yang mungkin menjadi bagian khusus tentang bagaimana Pura Luhur Candi Narmada Tanah Kilap dengan Ida Bhetari Nihang Sakti sebagai Pemucuk, bagaimana dengan Keberadaan Pelinggih lainnya. 
KORI AGUNG PURA
PELINGGIH IDA BHATARI NIHANG SAKTI



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menjadi Caraka Bagi Nusantara adalah Suatu Yang Hakiki sebagai anak Bangsa Indonesia

Top Nusantara